Parenting Seminar SMP Maitreyawira Deli Serdang: “Kenapa Anakku Berubah?” Ajak Orang Tua Memahami Remaja dan Bertumbuh Bersama

Parenting Seminar SMP Maitreyawira Deli Serdang: “Kenapa Anakku Berubah?” Ajak Orang Tua Memahami Remaja dan Bertumbuh Bersama

Parenting Seminar SMP Maitreyawira Deli Serdang:
“Kenapa Anakku Berubah?”

Ajak Orang Tua Memahami Remaja dan Bertumbuh Bersama

Sabtu, 19 September 2026 |  Fortunate Hall Lt. 1

Deli Serdang – Masa remaja merupakan fase penuh perubahan. Anak yang dahulu begitu dekat dengan orang tua, mudah diarahkan, dan terbuka bercerita, perlahan mulai menunjukkan keinginan untuk memiliki ruang sendiri. Perubahan sikap, emosi, cara berpikir, hingga cara berkomunikasi terkadang membuat orang tua bertanya-tanya, “Kenapa anakku berubah?”

Pertanyaan tersebut menjadi tema utama dalam Parenting Seminar SMP Maitreyawira Deli Serdang yang diselenggarakan dengan tagline “Memahami Remaja • Memahami Diri • Bertumbuh Bersama”. Kegiatan ini diikuti dengan antusias oleh para orang tua dan wali peserta didik SMP Maitreyawira Deli Serdang.

Menghadirkan Narasumber Ahli:
Seminar ini dibawakan oleh Ms. Jenny, S.Pd., M.Psi., CSP. Beliau merupakan praktisi pendidikan dan konseling dengan rekam jejak panjang dalam pendampingan anak dan keluarga. Saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala SMP bidang Kesiswaan di Sekolah Maitreyawira, beliau juga memiliki berbagai sertifikasi di bidang Therapeutic Art Life Coaching, konseling pendidikan karakter, expressive art therapy, dan parenting.

Memahami Perubahan Remaja

Dalam seminar ini, orang tua diajak memahami bahwa perubahan yang terjadi pada anak bukan semata-mata tanda bahwa anak menjadi “sulit” atau “berbeda”, melainkan bagian dari proses pertumbuhan menuju kedewasaan.

Masa remaja membawa perubahan dalam berbagai aspek, mulai dari fisik, emosi, cara berpikir, hingga kebutuhan untuk memiliki identitas dan kemandirian. Oleh karena itu, pendekatan orang tua pun perlu berkembang mengikuti perubahan tersebut.

Orang tua diajak untuk tidak hanya bertanya, “Kenapa anakku berubah?”, tetapi juga mulai merefleksikan, “Apa yang sedang terjadi dalam diri anakku?” dan “Bagaimana aku dapat hadir untuknya di fase ini?”

Salah satu hal krusial yang dibahas adalah pengaruh emosi terhadap respons anak dan orang tua. Ketika emosi sedang tinggi, komunikasi yang seharusnya menjadi jembatan justru dapat berubah menjadi konflik. Karena itu, orang tua diajak untuk membangun koneksi sebelum koreksi. Sebelum memberikan nasihat atau aturan, pastikan hubungan dan rasa aman dengan anak tetap terjaga.

Orang Tua Juga Perlu Belajar Memahami Diri

Proses pengasuhan tidak hanya berbicara tentang bagaimana memahami anak, tetapi juga tentang bagaimana orang tua memahami dirinya sendiri. Sebelum mengharapkan anak mampu mengenali dan mengelola emosinya, orang tua perlu belajar mengenali, merawat, dan meregulasi emosinya sendiri.

Dalam proses tersebut, orang tua diajak berani melihat perjalanan hidupnya masing-masing, termasuk pengalaman pengasuhan di masa kecil. Kesadaran terhadap pengalaman dan luka masa lalu menjadi langkah penting agar orang tua tidak mengulang pola yang sama kepada generasi berikutnya. Dengan memahami diri, orang tua dapat membangun relasi yang lebih sehat.

Only happy parents raise happy children.

Pesan di atas bukan berarti orang tua harus selalu bahagia dan tidak boleh merasa lelah atau marah. Sebaliknya, orang tua diajak memahami pentingnya merawat diri, memproses emosi, serta belajar hadir dengan lebih sadar dalam hubungan bersama anak. Kebahagiaan dalam keluarga bukan berarti tidak adanya masalah, melainkan adanya kemampuan untuk menghadapinya bersama.

Perubahan Kecil Melalui Konsep 1% Shift

Seminar ini juga memperkenalkan konsep 1% Shift, yaitu gagasan bahwa perbaikan dalam hubungan orang tua dan anak tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar. Perubahan bisa dimulai dari satu respons kecil yang berbeda, salah satunya melalui metode S.T.O.P:

S
Stop Berhenti sejenak sebelum memberikan respons.
T
Tarik Napas Memberikan waktu kepada diri sendiri untuk menenangkan emosi.
O
Observasi Mengamati apa yang sedang terjadi pada diri sendiri maupun anak.
P
Proses Memproses situasi tersebut sebelum memilih respons yang lebih tepat.

Melalui langkah sederhana ini, orang tua tidak akan langsung bereaksi berdasarkan emosi, melainkan memberi ruang untuk merespons secara lebih sadar dan membangun.

Anak Bertumbuh, Orang Tua pun Bertumbuh

Pada akhirnya, seminar ini mengajak orang tua melihat masa remaja dari perspektif yang lebih luas. Anak remaja sedang berubah karena mereka sedang bertumbuh. Tugas orang tua bukanlah mengembalikan mereka menjadi anak kecil yang penurut, melainkan memahami siapa anak mereka sekarang dan tetap menjadi tempat yang aman bagi mereka untuk pulang.

Di saat yang sama, orang tua juga bertumbuh ke dalam—menerima perjalanan hidup dan berdamai dengan masa lalu. Dengan begitu, orang tua mewariskan kesadaran, kasih, komunikasi yang sehat, dan hubungan yang aman.

Parenting Seminar SMP Maitreyawira Deli Serdang menjadi pengingat yang indah: Ketika anak bertumbuh, orang tua pun diajak untuk terus belajar dan bertumbuh bersama. Sebab memahami anak dimulai dari kemauan untuk memahami diri sendiri.

Bagikan:

Tag Berita:  pareting